Selasa, 20 November 2012

Pertambangan Tembaga



Pertambangan Tembaga

Dampak Lingkungan
Adapun dampak lingkungan dari pertambangan tembaga  adalah pertambangan dipahami merupakan potensi bencana dengan bahaya ikutannya :
1.       Perubahan bentang alam
2.       Erosi dan sedimentasi
3.       Gangguan stabilitas lereng
4.       Hilangnya habitat flora dan fauna
5.       Abrasi pantai
6.       Perubahan peruntukan lahan
7.       Penurunan kualitas air kerusuhan social
Solusi dan penanganan kerusakan lingkungan akibat limbah
Ada beberapa solusi yang dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk mengatasi kerusakan lingkungan yang diakibatkan banyaknya bekas-bekas tambang tembaga diantaranya : segera menghentikan berbagai kegiatan pertambangan   yang tidak sesuai dan menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. Sebab kalau tidak, kerusakan yang akan timul semakin parah dan menanggulanginya akan semakin sulit dan memerlukan biaya yang besar.
Melarang penggunaan berat bagi tambang berskala kecil, apalagi tambang dan alat berat tersebut tidak memiliki izin. Penggunaan alat berat seperti bulldozer dan sejenisnya pada tambang illegal (TI) tidak dibenarkan beroperasi pada daerah terlarang, seperti pada kawasan hutan lindung, daerah aliran sungai, alur pantai dan pegunungan. Tidak berlebihan tindakan dan larangan keras ini diberlakukan jika nanati ditemukan alat berat yang tidak memiliki izin, maka alat berat tersebut akan disita dan dikenakan sanksi hukum.

Permasalahan
Perizinan
Menurut undang-undang No. 11 tahun 1967, definisi pertambangan rakyat adalah suatu usaha pertambangan bahan-bahan galian dari semua golongan a, b dan c seperti yang dimaksud pasal 3 ayat 1 yang dilakukan oleh rakyat setempat secara kecil-kecilan atau secara gotong royong dengan alat sederhana untuk pencaharian sendiri. Pertambang rakyat yang kemudian diatur dalam UU minerba adalah mengenai wilayah dan perizinan pertambangan.
Meskipun UU Minerba menyebutkan bahwa penetapan wilayah pertambangan dilaksanakan secara partisipasi, memperhatikan aspirasi  daerah, serta memperhatikan aspirasi masyarakat. Namun UU ini memiliki kelemahan dalam implementasinya yaitu pengakuan hak masyaraklat atas ruang hidup. Kawasan masyarakat secara sepihak dijadikan kawasan pertambangan termasuk mengabaikan pertambangan rakyat yang merupakan hak hidup mereka.

Tahapan eksploitasi dan eksplorasi
Eksplorasi
Ekplorasi adalah penyelidikan lapangan untuk mengumpulkan data/informasi selengkap mungkin tentang keberadaan sumber daya alam disuatu tempat.
Kegiatan eksplorasi sangat penting dilakukan sebelum pengusahaan bahan tambang dilaksanakan mengingat keberadaan bahan galian yang penyebarannya tidak merata dan sifatnya sementara yang suatu saat akan habis tergali. Sehingga untuk menentukan lokasi penyebaran, kualitas dan jumlah cadangan serta cara pengambilannya diperlukan penyelidikan yang teliti agar tidak membuang tenaga dan modal, disamping untuk mengurangi resiko kegagalan, kerugian materi, kecelkaan kerja dan kerusakan lingkungan.
Eksploitasi
Eksploitasi adalah usaha penambangan dengan maksud untuk menghasilkan bahan galian dan manfaatnya. Kegiatan ini dapat dibedakan berdasarkan sifat bahan galiannya yaitu, bahan galian padat dan bahan galian cair serta gas.
1.       Kegiatan eksplorasi
Unit usaha ekplorasi terbagi antara lain :
a.       Alat Kerja Survey
b.      Biaya Survey

2.       Kegiatan eksploitasi
a.       Seberapa luas areal yang akan dieksploitasi
b.      Struktur tanah dan jenis alur timahnya berbentuk primer / sekunder
c.       Keadaan lingkungan masyarakat pada tahap matang kegiatan
d.      Budget eksploitasi

Data peringkat dunia :
1.       Peringkat 7 untuk cadangan tembaga dunia sebesar 4,1%
2.       Peringkat 2 dari sisi produksi sebesar 10,4% dari produksi dunia

Daerah-daerah penghasil tembaga di Indonesia diantaranya :
a)      Cikotok (Jawa Barat)
b)      Kompara (Papua)
c)       Sangkarapi (Sulawesi Tengah)
d)      Tirtamaya (Jawa Tengah)
Selain itu, terdapat juga di daerah Jambi dan Sulawesi Tengah.


Sumber :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar