Selasa, 17 Januari 2012

pasar dan pemerintahan dalam perekonomian modern



 
PASAR DAN PEMERINTAHAN DALAM PEREKONOMIAN MODERN

PENDAHULUAN
PASAR
Pasar adalah salah satu dari berbagai sistem, institusi, prosedur, hubungan sosial dan infrastruktur dimana usaha menjual barang, jasa dan tenaga kerja untuk orang-orang dengan imbalan uang. Barang dan jasa yang dijual menggunakan alat pembayaran yang sah seperti uang fiat. Kegiatan ini merupakan bagian dari perekonomian. Ini adalah pengaturan yang memungkinkan pembeli dan penjual untuk item pertukaran. Persaingan sangat penting dalam pasar, dan memisahkan pasar dari perdagangan. Dua orang mungkin melakukan perdagangan, tetapi dibutuhkan setidaknya tiga orang untuk memiliki pasar, sehingga ada persaingan pada setidaknya satu dari dua belah pihak. Pasar bervariasi dalam ukuran, jangkauan, skala geografis, lokasi jenis dan berbagai komunitas manusia, serta jenis barang dan jasa yang diperdagangkan. Beberapa contoh termasuk pasar petani lokal yang diadakan di alun-alun kota atau tempat parkir, pusat perbelanjaan dan pusat perbelanjaan, mata uang internasional dan pasar komoditas, hukum menciptakan pasar seperti untuk izin polusi, dan pasar ilegal seperti pasar untuk obat-obatan terlarang.
Dalam ilmu ekonomi mainstream, konsep pasar adalah setiap struktur yang memungkinkan pembeli dan penjual untuk menukar jenis barang, jasa dan informasi. Pertukaran barang atau jasa untuk uang adalah transaksi. Pasar peserta terdiri dari semua pembeli dan penjual yang baik yang memengaruhi harga nya. Pengaruh ini merupakan studi utama ekonomi dan telah melahirkan beberapa teori dan model tentang kekuatan pasar dasar penawaran dan permintaan. Ada dua peran di pasar, pembeli dan penjual. Pasar memfasilitasi perdagangan dan memungkinkan distribusi dan alokasi sumber daya dalam masyarakat. Pasar mengizinkan semua item yang diperdagangkan untuk dievaluasi dan harga. Sebuah pasar muncul lebih atau kurang spontan atau sengaja dibangun oleh interaksi manusia untuk memungkinkan pertukaran hak (kepemilikan) jasa dan barang.
Secara historis, pasar berasal di pasar fisik yang sering akan berkembang menjadi - atau dari - komunitas kecil, kota dan kota.
Menurut heilbroner (1982), pasar merupakan lembaga yang tujuan dan cara kerjanya paling jelas. Tujuan pokok pasar adalah mencari laba(profit). Karena itu, seluruh komponen didalamnya harus melakukan efisiensi secara maksimum, agar aturan kerjanya tercapai, yaitu memperoleh laba setinggi-tingginya.
Secara konseptual, pasar merupakan kelembagaan yang otonom. Dalam bentuknya yang ideal, maka mekanisme pasar diyakini akan mampu mengatasi persoalan-persoalan ekonomi dengan pengawasan politik dan social yang minimal dari pemerintah dan komunitas.
Agar otonomnya terjamin, maka pasar membutuhkan wujud sebagai sebuah kelembagaan, untuk melegimitasi otoritas pemerintah. System pasar berjalan bukan oleh perintah yang terpusat (pemerintah), namum oleh interaksi mutual dalm bentuk transaksi barang dan jasa antar pelaku-pelakunya.
Adapun peran pasar dalam masyarakat saat ini sudah sedemikian besar dan diperkirakan akan terjadi semakin besar sejalan dengan semakin sehatnya kehidupan politik dan social pada berbagai lapisan masyarakat. Pasar tak lagi bermakna sebagai tempat atau lokasi belaka, namun sudah meluas sebagai bagian penentu aspek moral kehidupan kolektif di tingkat desa hingga nasional.
Dalam kondisi persaingan yang tinggi, sesama pedagang memiliki solidaritas, misalnya terlihat dari cara mereka dalam membagi resiko ataupun keuntungan. Dalam kondisi pasar yang tak pernah bersaing sempurna, kepercayaan yang personalistik memiliki peran yang sangat penting. Kuatnya interaksi antar pedagang juga terlihat dari persediaan jasa keuangan dan permodalan. Cirri khas pasar adalah untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya dan rugi sekecil-kecilnya.

PEMERINTAH
   Orientasi kelembagaan pemerintah adalah untuk melayani masyarakat (dan sekaligus penguasa) , tergantung pada corak pemerintahannya. Pemerintah yang demokratis sangat melayani rakyatnya, namun yang bercorak otokratis mengandung pengabdian keepada penguasanya. Sruktur kekuasaannya yang monopolis menjadikan demokrasi merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan dalam kehidupan bernegara dikenal ada lima unsur demokrasi yaitu, partisipasi rakyat dalam memutuskan kebijakan politik, persamaan ha kantar warga Negara, kebebasan dan kemerdekaan bagi semua rakyat, beroperasinya system perwakilan politik, serta berfungsinya system pemilihan umum.
Fungsi utama pemerintah sebagai kelembagaan politik adalah menjadi wadah untuk berjalannya kelembagaan pasar tradisional dan pasar modern. Pemerintah dituntut bersikap sedemikian rupa, sehingga seluruh komponen yang ada di dalam masyarakat dapat berjalan sesuai konsep idealnya masing-masing.
Sebagai kelembagaan politik, pemerintah merupakan wadah dimana pelaku-pelaku ekonomi bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan pasar tradisional dan modern terhadap sumber daya yang tersedia. Namun demikian, dalam kondisi kelembagaan pasar belum siap misalnya, maka pemerintah cenderung memiliki peranan yang paling dominan dengan mengambil alih fungsi-fungsi yang semestinya dijalankan oleh kelembagaan pasar. Kebijakan ini dipandang tepat, karena pemerintah memiliki sruktur organisasi yang solid dan dengan didukung oleh sumber manusia yang cukup. Kebijakan ini menjadi pilihan yang baik, setidaknya dalam kondisi tertentu.
PEMBAGIAN PASAR :
PASAR TRADISIONAL
Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. Pasar seperti ini masih banyak ditemukan di Indonesia, dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar. Beberapa pasar tradisional yang "legendaris" antara lain adalah pasar Beringharjo di Yogyakarta, pasar Klewer di Solo, pasar Johar di Semarang. Pasar tradisional di seluruh Indonesia terus mencoba bertahan menghadapi serangan dari pasar modern. Beberapa pasar tradisional yang "legendaris" antara lain adalah pasar Beringharjo di Yogyakarta, pasar Klewer di Solo, pasar Johar di Semarang. Pasar tradisional di seluruh Indonesia terus mencoba bertahan menghadapi serangan dari pasar modern.
Sumber: Wikipedia.com

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN PASAR TRADISIONAL
KELEBIHAN
Pasar tradisional merupakan pasar  yang memiliki keunggulan bersaing alamiah yang tidak dimiliki secara langsung oleh pasar modern. Lokasi yang strategis, area penjualan yang luas, keberagaman barang yang lengkap, harga yang rendah, system tawar-menawar yang menunjukkan keakraban antara penjual dan pembeli merupakan keunggulan yang dimiliki oleh pasar tradisional. Selain keunggulan yang tadi, pasar tradisional juga merupakan salah satu pendongkrak perekonomian kalangan menengah kebawah, dan itu jelas memberikan yang baik bagi Negara. Dimana Negara ini memang hidup dari perekonomian skala mikro di banding skala makro. Sisi kekeluargaan antara pembeli dan penjual menjadi satu pemandangan yang indah kala berada dalam pasar dan bahkan ada juga yang namanya langganan dan itu bisa menjadi hubungan yang tidak terpisahkan bagaikan persaudaraan yang sudah sangat dekat sekali. Dibalik kelebihan yang dimiliki pasar tradisional ternyata tidak didukung oleh pihak pemerintah, salah satunya terlihat pemerintah lebih membanggakan adanya pasar modern dari pasar tradisional, yang itu dilakukan dengan cara “mengusir” satu per satu pasar tradisional dengan cara dipindahkan dari tempat yang layak ke tempat yang jauh dan kurang refresentatif. Selain itu tidak di perhatikan pemerintah.
KELEMAHAN
Sisi kelemahan yang paling urgen ialah pada kumuh dan kotornya lokasi pasar. Bukan hanya itu saja, banyaknya produk yang diperdagangkan oleh oknum pasar tradisional dengan mendagangkan barang yang menggunakan bahan kimia dan itu sangat marak di pasar tradisional. Bukan hanya itu saja, pengemasan pasar juga kurang diliriknya pasar tradisional, bahkan mungkin makin hari bukan malah makin bagus akan tetapi malah makin buruk kondisinya. Dan jelas hal itu, cukup bahaya bagi keberadaan pasar tradisional. Hal-hal tersebutlah yang membuat konsumen menjadi malas untuk pergi ke pasar tradisional. Padahal kalau hal itu lebih diperbaharui, bukan tidak mungkin perekonomian kerakyatan itu hidup kembali.
Sumber: gokildadakan.com
Contoh pasar tradisional :
PEDAGANG BAKSO
Tabel 2 alat produksi
No
Keterangan
1
Daging
2
Urat
3
Mie kuning
4
Mie putih
5
Sayuran (toge, sawi, seledri, dll)
6
Saos
7
Kecap
8
Cuka
9
Cabe
10
Bawang goreng
11
Garam
12
Penyedap rasa
13
Bahan penolong (air)


b. Alat
Berkenaan dengan peralatan yang digunakan pada usaha BUGK ini, penyusun mengkategorikan peralatan tersebut menjadi dua bagian, yaitu alat produksi dan alat/item pendukung.
Alat produksi ini berhubungan langsung dengan proses pembuatan baso. Alat produksi tersebut adalah :
Tabel 2 Alat Produksi
No
Keterangan
1
Kompor gas + tabung
2
Kompor
3
Panci air baso
4
Panci masak air
5
Baskom besar
6
Wajan
7
Pisau
8
Talenan
9
Sendok baso
10
Saringan
11
Wadah bumbu


Adapun peralatan dan item pendukung yang digunakan adalah :
Tabel 3  Alat/item pendukung
No
Keterangan
1
Gerobak bakso
2
Rak piring
3
Lap
4
Meja
5
Kursi
6
Mangkok
7
Sendok
8
Garpu
9
Tempat Sendok
10
Gelas
11
Wadah tisu
12
Dispenser
13
Asbak



Siklus Produksi
Asumsi dasar yang penyusun gunakan berkenaan dengan siklus produksi dalam penelitian ini adalah siklus penjualan harian. Dengan kata lain, siklus ini dimulai dari belanja bahan-bahan, buka kios, penjualan baso, hingga kios tutup.

 Data Biaya dan Volume Produksi
Untuk perlu diketahui, bahwa usaha BUGK ini merupakan usaha yang menggunakan model usaha bagi hasil, sehingga untuk biaya tenaga kerja ditiadakan.
a. Data Biaya
Tabel 4  Biaya bahan-bahan
No
Keterangan
Harga
(Rp)
1
Daging
255.000
2
Urat
84.000
3
Mie kuning
20.000
4
Mie putih
20.000
5
Toge, sayur, seledri
12.000
6
Saos
30.000
7
Kecap
21.000
8
Cuka
4.000
No
Keterangan
Harga
(Rp)
9
Cabe
5.500
10
Bawang goreng
21.000
11
Garam
2.000
12
Penyedap rasa
10.500
13
Biaya giling
23.000

Total
508.000

Tabel 5  Biaya Peralatan

Tabel  6 Biaya lain-lain
No
Keterangan
Per bulan
(Rp)
Per hari
(Rp)
1
Biaya sewa gedung***)
666.667
22.222
2
Biaya listrik
100.000
3.333
3
Biaya Air
150.000
5.000
4
BBM

17.500

Total

48.055
Keterangan :
***) Biaya sewa gedung adalah Rp 800.000,00 per  tahun

 Perhitungan HPP Total
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa asumsi dasar yang digunakan adalah asumsi penjualan harian, sehingga HPP total yang dimaksud dalam penelitian ini adalah HPP per hari.

Tabel 7  HPP Total
No
Keterangan
Per hari
(Rp)
1
Biaya bahan-bahan
508.000
2
Biaya Overhead


- BBM
17.500

- Biaya sewa gedung
22.222

- Biaya listrik
3.333

- Biaya Air
5.000

- Biaya Penyusutan
3.925

Total
559.980

Dari tabel 7 dapat diketahui bahwa HPP total pada BUKG adalah sebesar   Rp559.980,000
 Perhitungan HPP Per Satuan
Untuk HPP per satuan yang penyusun maksudkan disini adalah HPP untuk menghasilkan semangkok baso, sehingga perhitungan HPP per satuan untuk BUKG adalah HPP total harian dibagi dengan jumlah baso yang dihasilkan dalam satuan mangkok. Perhitungannya dapat dirumuskan sebagai berikut:

Sementara, untuk jumlah baso yang dihasilkan dengan bahan-bahan yang dipaparkan di atas, dapat menghasilkan rata-rata 125 mangkok baso.
Dari data di atas maka dapat diketahui bahwa HPP per satuan pada BUKG adalah sebesar Rp4.480,00. Perhitungannya adalah:




  Sumber:akbi.doc


PASAR MODERN
Pasar modern tidak banyak berbeda dari pasar tradisional, namun pasar jenis ini penjual dan pembeli tidak bertransakasi secara langsung melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga. Barang-barang yang dijual, selain bahan makanan makanan seperti; buah, sayuran, daging; sebagian besar barang lainnya yang dijual adalah barang yang dapat bertahan lama. Contoh dari pasar modern adalah hypermarket, pasar swalayan (supermarket), dan minimarket.
Pasar dapat dikategorikan dalam beberapa hal. Yaitu menurut jenisnya, jenis barang yang dijual, lokasi pasar, hari, luas jangkauan dan wujud.
Sumber: Wikipedia.com



BIAYA PRODUKSI DALAM PERUSAHAAN
Contoh biaya produksi :PT. PUPUK UREA ,tbk sriwijaya, Palembang tahun 2005-2006
ABSTRAK. Sebagai produsen pupuk dan holding company produsen pupuk yang ada di Indonesia tentunya mempunyai tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan yang diselenggarakan yaitu untuk mendapatkan laba bagi perusahaan dan memberikan kepuasan kepada konsumen. Agar dapat terpenuhi maka perusahaan perlu menetapkan harga pokok penjualan pupuk sebagai dasar penetapan harga jual pupuk agar dapat mencapai laba yang diharapkan perusahaan. Hasil analisis diketahui bahwa harga pokok penjualan untuk tahun 2005 sebesar Rp 1.806,07 / kg, sedang tahun 2006 sebesar Rp 1.969,9 / kg. Terjadinya kenaikan harga pokok produksi pupuk urea yang menyebabkan turunnya laba perusahaan dikarenakan naiknya harga gas alam sebagai bahan baku pembuatan pupuk urea. Banyaknya persediaan akhir pupuk urea digudang mengindikasikan tidak begitu baiknya tata niaga pendistribusian pupuk urea PT Pupuk Sriwidjaja.

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu negara agraris yang sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian. Di negara yang memiliki latar belakang seperti Indonesia ini, menjadi pasar yang potensial bagi industri-industri yang memasok sarana produksi pertanian, salah satu sarana produksi pertanian tersebut adalah pupuk. Sebagai perusahaan industri tentunya perhitungan harga pokok produksi menjadi sangat penting. Perhitungan harga pokok produksi selain digunakan sebagai dasar penentuan tingkat laba, penilaian efisiensi usaha, juga pengalokasian harga pokok produksi yang tepat akan membantu perusahaan dalam menetapkan harga pokok penjualan yang tepat pula.
Perhitungan harga pokok penjualan yang tepat sangat penting bagi setiap perusahaan dalam melakukan perencanaan, pengendalian biaya dan pengambilan keputusan serta untuk menentukan perolehan yang wajar. Apabila perusahaan memperhitungkan harga pokoknya terlalu tinggi maka akan mengakibatkan kerugian pada perusahaan karena tidak dapat bersaing dengan hasil produksi yang sejenis lainnya, sehingga produksi perusahaan tidak laku dijual. Namun, apabila perusahaan memperhitungkan harga pokok penjualannya terlalu rendah maka akan mengakibatkan kerugian pada perusahaan itu sendiri karena tidak mencapai laba yang diinginkan. Apabila suatu perusahaan telah menentukan harga pokok penjualan, maka akan ditetapkan pula harga jual yang sesuai dengan semua biaya produksi termasuk biaya-biaya pemasaran dan pencapaian laba yang diinginkan.
Penetapan harga jual sesungguhnya merupakan masalah yang rumit bagi perusahaan yang tidak dapat ditugaskan pada satu orang saja. Dalam prakteknya, penyelesaian masalah penetapan harga jual merupakan hasil penelitian yang memerlukan kerjasama dan koordinasi diantara para ahli keuangan suatu perusahaan. Secara umum, biaya tidak menentukan harga jual produk atau jasa. Harga jual terbentuk di pasar sebagai interaksi antara jumlah permintaan dan penawaran di pasar. Namun manajemen puncak memerlukan informasi biaya penuh untuk memperhitungkan konsekuensi laba dari setiap alternatif harga jual yang terbentuk di pasar. Oleh karena itu, dalam keadaan normal manajemen puncak harus memperoleh jaminan bahwa harga jual produk atau jasa yang dijual dapat menutupi biaya penuh sehingga dapat menghasilkan laba yang wajar.
PT Pupuk Sriwidjaja adalah salah satu produsen pupuk dan menjadi holding company produsen pupuk di Indonesia. Sejak awal berdirinya PT Pupuk Sriwidjaja telah mengemban misi sebagai produsen pupuk yang akan memproduksi dan memasarkan pupuk untuk mendukung ketahanan pangan nasional, produk-produk petrokimia dan jasa-jasa teknik di pasar nasional dan global dengan memperhatikan aspek mutu secara menyeluruh. Sebagai produsen pupuk dan holding company produsen pupuk yang ada di Indonesia tentunya mempunyai tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan yang diselenggarakan yaitu untuk mendapatkan laba bagi perusahaan dan memberikan kepuasan kepada konsumen. Agar tujuan tersebut dapat terpenuhi maka perusahaan perlu menetapkan harga pokok penjualan pupuk sebagai dasar penetapan harga jual pupuk agar dapat mencapai laba yang diharapkan perusahaan.
Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka perumusan masalah yang bahas pada adalah  bagaimana penentuan harga pokok produksi pupuk urea dan penentuan keuntungan yang ingin dicapai dalam menetapkan harga jual di PT Pupuk Sriwidjaja Palembang.
Ruang Lingkup Pembahasan
Untuk menghindari terlalu luasnya ruang lingkup pembahasan serta tercapainya suatu hasil pembahasan yang lebih rinci dan terarah maka ruang lingkup pembahasan yang penulis lakukan yaitu mengenai “Penentuan harga pokok produksi pupuk urea dan keuntungan yang ingin dicapai dalam menetapkan harga jual di PT Pupuk Sriwidjaja Palembang untuk tahun 2005 dan 2006.
Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui penentuan harga pokok produksi pupuk urea dan keuntungan yang ingin dicapai dalam menetapkan harga jual di PT Pupuk Sriwidjaja Palembang untuk tahun 2005 dan 2006.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari adanya penelitian ini adalah :
Bagi Perusahaan
Sebagai masukan bagi perusahaan untuk bahan informasi dalam menentukan harga pokok produksi pupuk urea dan penetapan keuntungan yang ingin dicapai dalam menetapkan harga jual.
Bagi Penulis
Dapat mengetahui bagaimana penentuan harga pokok produksi pupuk urea dan keuntungan yang ingin dicapai dalam menetapkan harga jual di PT Pupuk Sriwidjaja Palembang untuk tahun 2005 dan 2006.
Bagi Pihak Lain
Sebagai bahan masukan bagi pihak lain dalam melakukan penelitian selanjutnya mengenai penetapan harga pokok produksi pupuk urea.
TINJAUAN PUSTAKA
Biaya Produksi dan Harga Pokok Produksi
Kegiatan produksi merupakan penunjang utama dari penjualan artinya memiliki kewajiban untuk mempertimbangkan penjualan serta pada kebijaksanaan persediaan produk. Menurut Riwayadi (2006:64), biaya produksi adalah biaya yang terjadi pada fungsi produksi, dimana fungsi produksi merupakan fungsi yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi.
Menurut Hanafi (2000:5), biaya produksi adalah biaya-biaya yang berhubungan langsung dengan produksi dari suatu produk dan akan dipertemukan (di-match-kan ) dengan penghasilan (revenue) diperiode mana  produk itu dijual, biaya produksi diperlakukan sebagai persediaan (inventaris).
Adapun jenis-jenis biaya produksi dapat dikatagorikan sebagai berikut:
1.      Biaya manufaktur langsung (Direct Manufacturing Cost)
Adalah biaya-biaya yang terjadi pada fungsi produksi yang dapat mudah dan akurat ditelusuri ke produk. Fungsi produksi adalah fungsi yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi.
Ada dua jenis biaya manufaktur langsung yaitu:
a.       Bahan baku langsung (direct raw  material cost)
Adalah semua bahan yang membutuhkan bagian-bagian integral dari barang jadi dan dapat dimasukkan langsung dalam kalkulasi produk. Menurut Riwayadi (2006:66) bahan baku langsung adalah bahan yang dapat secara mudah dan akurat ditelusuri ke produk jadi.
b.      Tenaga kerja langsung (direct labor)
Adalah tenaga kerja yang dikerahkan untuk mengubah bahan baku langsung menjadi barang jadi dan diberikan upah atas pekerjaan tersebut. Menurut Riwayadi (2006:45) tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang dapat ditelusuri pada barang atau jasa yang sedang diproduksi.
2. Biaya manufaktur tidak langsung (Indirect manufacturing cost)
Adalah biaya yang terjadi pada fungsi produksi yang tidak dapat secara mudah dan akurat ditelusuri ke objek biaya karena biayanya dikonsumsi secara bersama oleh beberapa objek biaya.  (Riwayadi,2006:65),
Yang terdiri dari:
a.       Overhead variabel,
 yaitu biaya yang jumlahnya berubah-ubah tergantung pada fluktuasi produksi atau pembelian.
b.      Overhead tetap,
yaitu biaya yang jumlahnya tidak berubah
Biaya produksi membentuk harga pokok produksi, yang digunakan untuk menghitung harga pokok produk jadi dan harga pokok produk yang pada akhir periode akuntansi masih dalam proses. Menurut Mulyadi (2000:18) secara garis besar, cara memproduksi produk dapat dibagi menjadi dua macam: produksi atas dasar pesanan, mengumpulkan harga pokok produksinya dengan menggunakan metode harga pokok pesanan (job order cost method) dan produksi massa, mengumpulkan harga pokok produksinya dengan menggunakan metode harga pokok proses (process cost method).
Pengertian Harga Pokok Penjualan
Menurut Zaki Baridwan (2004:120), menyatakan bahwa harga pokok penjualan adalah nilai yang ditetapkan oleh perusahaan terhadap barang dan jasa dalam hubungannya penetapan harga yang didasarkan pada besarnya biaya produksi ditambahkan dengan keuntungan yang diharapkan.
Menurut Carter dan Usry (2004 : 51) harga pokok penjualan adalah pos pada perhitungan rugi laba yang dihitung dengan menggunakan persediaan barang dagang pada akhir tahun dari barang yang tersedia untuk dijual.
Metode Harga Pokok Penjualan
Dalam penentuan harga pokok penjualan (HPP) terdapat dua metode yang umum digunakan, yaitu metode full costing dan variable costing. Hal ini biasanya
ditemukan di berbagai perusahaan yang mengadaptasi sistem pembukuan modern,
baik perusahaan berskala kecil maupun yang besar.
Menurut Mulyadi (2000:18) full costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik, baik yang berperilaku variabel maupun tetap. Variable costing, merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel ke dalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel.
Pengertian Keuntungan
Menurut Poerwadarminta (2006:643) keuntungan adalah laba yang diperoleh dari penjualan, pembungaan uang dan usaha lainnya. Sedangkan menurut Mulyadi (2001;230) keuntungan atau laba kontribusi merupakan kelebihan pendapatan penjualan diatas biaya variabel. Informasi laba kontribusi memberikan gambaran jumlah yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan untuk menghasilkan laba. Semakin besar keuntungan atau laba kontribusi , semakin besar kesempatan yang diperoleh perusahaan untuk menutup biaya tetap dan untuk menghasilkan keuntungan.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa keuntungan merupakan kelebihan pendapatan yang diperoleh dari hasil usaha atau penjualan  yang dikurangi dengan harga pokok penjualan.
Pengertian Harga Jual
Penetapan harga jual merupakan suatu masalah yang rumit dan bukanlah merupakan tugas satu orang atau satu kegiatan. Dalam prakteknya, pemecahan masalah penetapan harga jual merupakan karya penelitian yang memerlukan kerja sama dan koordinasi diantara para ahli ekonomi, ahli statistik, spesialis pemasaran, ahli teknik industri, dan akuntan. Dalam suatu perusahaan manajer senantiasa memerlukan informasi biaya produksi dalam pengambilan keputusan terhadap harga jual.
Menurut Mulyadi (2000:27) pengertian harga jual adalah suatu harga yang memberikan laba pada perusahaan yang menuntut adanya pengertian tentang biaya-biaya produksi dalam hubungannya dengan volume.
Metode Harga Jual
Menurut Baridwan (2004 ; 84) ada tiga bentuk penetapan harga jual, yaitu:
  1. Penetapan harga jual oleh pasar. Harga ini betul-betul ditetapkan oleh mekanisme penawaran dan permintaan, dalam arti penjual tidak bisa menentukan harga.
  2. Penetapan harga jual oleh pemerintah. Pemerintah berwenang untuk menetapkan harga barang atau jasa yang menyangkut kepentingan umum.
  3. Penetapan harga jual yang dapat dikontrol oleh perusahaan. Harga ditetapkan oleh keputusan dan kebijaksanaan yang terdapat dalam suatu perusahaan walaupun faktor-faktor mekanisme penawaran dan permintaan serta ketetapan dari pemerintah tetap diperhatikan.
Proses Produksi
Pupuk urea yang dikenal dengan rumus kimianya NH2CONH2 pertama kali dibuat secara sintesis oleh Frederich Wohler pada tahun 1828 dengan mereaksikan Garam Cyanat dengan Ammonium Hydroxide. Penemuan Wohler ini merupakan pembuktian pertama kali bahwa zat organis dapat diperolah dari zat an-organis. Saat ini pupuk urea merupakan kebutuhan pokok bagi para petani di Indonesia karena dalam senyawa urea terdapat zat Nitrogen (N) yang merupakan makanan bagi tanaman seperti padi, palawija dan sejenisnya.
Pupuk urea yang dibuat di PT Pusri merupakan hasil reaksi kimia antara Karbon Dioksida (CO2) dan Amoniak (NH3), dimana kedua senyawa ini berasal dari dari bahan baku gas bumi, air dan udara.
Oleh sebab itu maka untuk pembuatan pupuk urea diperlukan:
Pabrik Utilitas
a.   Pengolahan Air Sungai menjadi Air Bersih (AB), Air Minum (AM) dan Air Pendingin (AP)
b.  Pengolahan udara menjadi Udara Instrumen (UI), Udara Pabrik (UP) dan Nitrogen (N2)
c.   Pengolahan Gas Bumi dan Air Murni menjadi listrik dan Uap Air.
Pabrik Amoniak
a.   Pemurnian gas bumi dan pembuatan gas sintesa, pembuatan amoniak dan pemurnian amoniak
b.  Pabrik ini menghasilkan Karbon Dioksida (CO2) dan Amoniak (NH3).
Pabrik Urea
Pembuatan urea, dekomposisi, daur ulang, kristalisasi dan pembutiran, pabrik ini menghasilkan urea.
Secara garis besarnya, proses pembuatan urea dapat digambarkan sebagai berikut:
Gas Bumi                    Amoniak (NH3)
Udara                                                                              Urea
Air                               Carbon dioksida (CO2)
Gambar 1 Proses Pembuatan Urea
METODOLOGI PENELITIAN
Metode Pengumpulan Data
Data-data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah :
1.       Data Primer
Data yang dikumpulkan secara langsung oleh penulis dari objek penelitian berupa data mentah yang masih harus diolah. Adapun data primer yang digunakan oleh penulis adalah :
a.       Observasi
Melakukan pengamatan langsung dan sistematis pada objek penelitian, seperti aktivitas yang dilakukan dan biaya-biaya apa saja yang digunakan dalam menentukan harga pokok produksi.
b.       Interview (wawancara)
Data yang diperoleh dengan wawancara langsung kepada pimpinan dan staf karyawan yang dapat memberikan data dan informasi yang diperlukan. Contohnya dalam penentuan harga pokok produksi dan penentuan harga jual pupuk urea.
2.       Data Sekunder
Pengumpulan data yang mempelajari masalah yang berhubungan dengan objek penelitian atau yang diteliti serta bersumber dari buku-buku pedoman, dan literatur yang berhubungan dengan penelitian. Adapun data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu berupa sejarah singkat, struktur organisasi, dan laporan keuangan PT Pupuk Sriwidjaja Palembang tahun 2005 dan 2006.
Teknik Analisis
Teknik analisis yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif kualitatif yaitu tehnik analisis yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan penelitian lalu menganalisis unsur-unsur yang termasuk dalam komponen biaya produksi serta membandingkan antara harga pokok produksi dan harga jual pupuk urea. Tujuannya untuk mengetahui apakah penggolongan unsur biaya produksi yang terjadi telah sesuai dengan akuntansi yang berlaku umum dan dalam hubungannya dengan penetapan harga jual pupuk urea.
Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah PT Pupuk Sriwidjaja Palembang yang beralamat di Jalan Mayor Zen Palembang 30118.
PEMBAHASAN
Analisis Penentuan Harga Pokok Produksi Pupuk Urea
Untuk menetapkan harga pokok secara akurat, diperlukan klasifikasi biaya yang tepat yang termasuk didalam unsur-unsur harga pokok produksi, sehingga pengalokasian biaya per unit dapat dialokasikan dengan baik terhadap produk yang dihasilkan oleh perusahaan.
Klasifikasi biaya yang diterakan pada laporan harga pokok produksi pupuk urea PT. Pusri adalah sebagai berikut:
Biaya Produksi :

Biaya Bahan Baku

Tabel 1 Biaya Bahan Baku

Keterangan
2005
(000)
2006
(000)
Gas Bumi
-          Amoniak
-          Carbon dioksida
1.299.082.929
1.330.287.470
Air Baku
803.126
845.461
Konsumsi Off Gas
33.431.794
48.064.958
Total
1.333.317.849
1.379.197.889
Sumber : Data Diolah, 2007
- Konsumsi Gas Bumi
Adalah biaya yang digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan urea dimana gas bumi ini diubah dahulu menjadi amoniak dan karbon dioksida dibagian amoniak kemudian dikirim ke bagian urea.
- Konsumsi Air Baku
Adalah biaya pemakaian air yang digunakan untuk proses pembuatan urea.
- Konsumsi off gas
Adalah biaya yang dipakai untuk menampung biaya pemakaian off gas dan hasil daur ulang limbah (PET) yang digunakan di pabrik urea.
Biaya Tenaga Kerja Langsung

Tabel 2 Biaya Tenaga Kerja Langsung

Keterangan
2005
(000)
2006
(000)
Gaji dan Kesejahteraan
209.349.808
206.850.135
Sumber : Data Diolah, 2007
- Gaji
Biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk membayar karyawan setiap bulannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
- Kesejahteraan
Biaya yang dipakai untuk kesejahteraan karyawan, seperti bonus, insentif dan lain-lain.
Biaya Overhead Pabrik

Tabel 3 Biaya Overhead Pabrik

Keterangan
2005
(000)
2006
(000)
Bahan Penolong
28.935.258
32.090.652
Pemeliharaan dan suku cadang
135.955.690
124.883.892
Asuransi
5.870.441
5.628.979
Jasa
3.723.640
13.011.944
Pajak dan Kontribusi
1.196.588
1.342.591
Administrasi dan Umum
16.803.782
15.090.199
Penyusutan dan Amortisasi
46.106.491
42.523.623
Kantong dan Pengantongan
58.020.211
58.484.768
Total
295.612.101
292.786.649
Sumber : Data Diolah, 2007
- Bahan Penolong, yang terdiri dari Kimia dan Katalis, serta Pelumas.
- Kimia dan Katalis
Biaya yang dipakai untuk menampung pemakaian bahan kimia dan katalis yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari satu tahun yang digunakan pada proses produksi maupun yang digunakan sebagai bahan penolong antara lain kaporit, chlorin, nitrogen, gas helium Freon, methane dan urea shoft. Sedangkan untuk pemakaian bahan kimia dan katalis yang masa manfaatnya lebih dari satu tahun ditangguhkan dan dibebankan ke perkiraan amortisasi bahan kimia dan katalis. Tahun 2005 biaya Kimia dan Katlis sebesar Rp 27.897.340.000,00 sedang tahun 2006 sebesar Rp 30.816.014.000,00.
- Minyak Pelumas
Biaya yang dipakai untuk menampung pemakaian minyak pelumas di pabrik  seperti regal oil, kompen oil dan lain-lain. Biaya minyak pelumas untuk tahun 2005 sebesar Rp 1.037.918.000,00 sedang tahun 2006 sebesar Rp 1.274.638.000,00.
- Pemeliharaan Pabrik
Biaya yang juga dikeluarkan perusahaan untuk kelancaran jalannya proses produksi seperti pembersihan pada alat-alat yang dilakukan sesuai dengan ketentuan perusahaan biasanya dilakukan tiap minggu atau tiap bulan.
- Suku cadang Pabrik
Biaya yang digunakan untuk memperlancar proses produksi seperti bila ada kerusakan pada suatu alat maka biaya ini dikeluarkan untuk memperbaiki atau mengganti alat yang rusak tersebut.
-          Asuransi
Biaya yang digunakan untuk asuransi pekerja bagian pabrik dan asuransi pabrik-pabrik yang memproduksi pupuk. Biaya asuransi ini dibebankan untuk jangka waktu satu tahun.
- Biaya Jasa
Biaya penunjang yang dipakai untuk memperlancar proses produksi di pabrik urea, seperti listrik, air demin, air pendingin dan lain-lain.
- Pajak dan Kontribusi
biaya ini dimaksudkan untuk pembayaran pajak bumi dan bangunan pabrik.
- Administrasi dan Umum
Biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan dalam penyusunan kebijaksanaan, pengembangan, mengatur, mengawasi dan pengarahan secara keseluruhan.
- Penyusutan
Biaya yang disusutkan atas pemakaian aktiva tetap, aktiva penyangga, aktiva sewa guna.
- Amortisasi
Biaya yang digunakan untuk menampung pembebanan biaya amortisasi.
-      Kantong dan Pengantongan
Biaya yang dikeluarkan untuk kantong dan pengantongan pupuk urea.
Berikut ini adalah perhitungan harga pokok produksi yang dilakukan oleh perusahaan:
PT Pupuk Sriwidjaja
Laporan Harga Pokok Produksi
Tahun 2005 (000)
Tonase Produksi (Ton):
-          Urea Larutan                                                                  47.791,35 Ton
-          Urea Curah                                                               1.188.027,44 Ton
-          Urea Kantong                                                            810.041,21 Ton

Jumlah Produksi                                                                   2.045.860,00 Ton

Biaya Produksi:
- Gas Bumi                          Rp1.299.082.929,00
- Air Baku                           Rp          803.126,00
- Off Gas                             Rp 33.431.794,00
- Biaya bahan baku                                                        Rp   1.333.317.849,00
- Biaya tenaga Kerja Langsung                                      Rp      209.349.808,00
- Biaya overhead pabrik                                                 Rp      295.612.101,00
Total Biaya Produksi                                                     Rp    1.838.279.758,00
Persediaan Barang Dalam Proses- Awal                        Rp          8.327.203,00
Biaya Produksi yang diperhitungkan                             Rp    1.846.606.961,00
Persediaan barang dalam proses- akhir                          Rp       (11.187.826,00)

Harga Pokok Produksi                                                Rp    1.835.419.135,00

Persediaan barang jadi- awal                                         Rp       324.281.470,00
Harga pokok barang tersedia dijual                               Rp    2.159.700.605,00
Persediaan barang jadi-akhir                                          Rp      (261.639.385,00)
Harga pokok penjualan                                                  Rp    1.898.061.220,00
Dari jumlah biaya produksi diatas, maka dapat diketahui besarnya harga pokok penjulan pupuk urea per kg tahun 2005 adalah sebagai berikut:
HPP Pupuk Urea Per kg         =  HPP (Rp) / Hasil Produksi (Ton)
=  Rp 1.835.419.135,00 / 2.045.860 Ton
= Rp 879.140,00 / Ton
= Rp 879,14 / kg
PT Pupuk Sriwidjaja
Laporan Harga Pokok Produksi
Tahun 2006 (Rp.000)
Tonase Produksi (Ton):
Urea Larutan                                                         51.045,49 Ton
Urea Curah                                                       1.191.700,16 Ton
Urea Kantong                                                    808.504,35 Ton

Jumlah Produksi                                                       2.051.250,00 Ton

Biaya Produksi:
-          Gas Bumi                    Rp 1.330.287.470,00
-          Air Baku                     Rp           845.461,00
-          Off Gas                       Rp 48.064.958,00
- Biaya bahan baku                                                           Rp 1.379.197.889,00
- Biaya tenaga Kerja Langsung                                         Rp    206.850.135,00
- Biaya overhead pabrik                                                    Rp 292.786.649,00
Total Biaya Produksi                                                        Rp 1.878.834.673,00
Persediaan Barang Dalam Proses- Awal                           Rp 11.187.826,00
Biaya Produksi yang diperhitungkan                                Rp  1.890.022.499,00
Persediaan barang dalam proses- akhir                             Rp (19.288.540,00)

Harga Pokok Produksi                                       Rp 1.870.733.959,00

Persediaan barang jadi- awal                                            Rp 261.639.385,00
Harga pokok barang tersedia dijual                                  Rp 2.132.373.344,00
Persediaan barang jadi-akhir                                             Rp (477.385.382,00)
Harga pokok penjualan                                                     Rp 1.654.987.962,00
Dari jumlah biaya produksi diatas, maka dapat diketahui besarnya harga pokok penjualan pupuk urea per kg tahun 2006 adalah sebagai berikut:
HPP Pupuk Urea Per kg         =  HPP (Rp) / Hasil Produksi (Ton)
=  1.870.733.959 / 2.051.250
= Rp 911.990,00 / Ton
= Rp 911,99 / kg
Dari data diatas, untuk tahun 2005 harga pokok penjualan sebesar Rp Rp 897,14 / kg sedangkan untuk tahun 2006 sebesar Rp Rp 911,99 / kg, berarti ada kenaikan sebesar Rp 14,85 / kg.
Penentuan Keuntungan Pupuk Urea di PT Pupuk Sriwidjaja Palembang
Bagi perusahaan industri, biaya produksi harus dibuat lebih spesifik yang memisahkan antara biaya produksi dan biaya non produksi sehingga diharapkan unsur-unsur biaya yang membentuk biaya produksi harus benar-benar  menggambarkan unsur-unsur harga pokok produksi. Hal ini dianggap perlu karena penentuan harga pokok produksi merupakan informasi biaya yang benar-benar akurat dalam pengendalian biaya untuk mencapai tujuan perusahaan, selain itu dapat memberikan manfaat yang besar bagi PT Pusri Palembang dalam pengendalian biaya produksi. Perhitungan harga pokok produksi sangat penting bagi pimpinan perusahaan, yaitu sebagai alat informasi di dalam pengambilan keputusan dan menetapkan harga pokok penjualan yang tepat atas produk yang dihasilkan.
Seperti yang kita ketahui, sebagian besar masyarakat Indonesia bekerja di sektor pertanian, maka pupuk merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi mereka. PT Pusri merupakan perusahaan milik pemerintah yang berstatus BUMN, maka PT Pusri berkewajiban memenuhi kebutuhan petani untuk pengadaan pupuk dimana dalam hal penentuan keuntungan yang ingin dicapai dipengaruhi oleh kebijakan yang ditetapkan pemerintah. Kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah sampai dengan saat ini masih memberikan subsidi pupuk kepada para petani. Dalam penjualan pupuk bersubsidi PT Pusri tidak diperkenankan untuk memperoleh keuntungan. Keuntungan yang diperoleh PT Pusri dalam penjualan pupuk urea hanya di dapat dari penjualan pupuk ke perkebunan dan industri. Namun, besarnya margin atau keuntungan yang diperoleh tidak dapat ditentukan sendiri oleh PT Pusri, karena harga jual berdasarkan pada harga pasar.
Tahun 2005 dan 2006 pemerintah menentukan pupuk bersubsidi yang dijual oleh PT Pusri sebanyak 1.650.000 ton per tahun. Sisa dari produksi pupuk yang ada setelah dikurangi dengan penjualan pupuk bersubsidi di jual untuk perkebunan dan industri berdasarkan harga yang berlaku dipasaran.
Untuk tahun 2005 PT Pusri berhasil menjual pupuk urea sebanyak 2.071.106,3 ton. Perhitungan ini didapat dari :
Tabel 4 Penjualan Pupk Urea Tahun 2005

Jumlah unit (Ton)
Persediaan barang jadi awal
349.531,0
Produksi periode ini
2.045.860,0
Persediaan barang jadi akhir
(324.284,7)
Total Penjualan
2.071.106,3
Sumber : Data diolah, 2007
Dari 2.071.106,3 ton penjualan pupuk urea sebanyak 1.650.000 ton untuk penjualan pupuk bersubsidi. Dengan demikian jumlah pupuk urea yang dijual ke perkebunan dan industri atau non subsidi adalah :
Total Penjualan pupuk urea non subsidi =  Total Penjualan – penjualan bersubsidi
= 2.071.106,3 ton – 1.650.000 ton
= 421.106,3 ton
= 421.106.300 kg
Keuntungan yang diperoleh PT Pusri untuk tahun 2005 dari penjualan pupuk urea per kg adalah :
Harga Jual per kg = HPP + Laba yang diharapkan
Rp 2.200,00         = Rp 1.806,07 + Laba yang diharapkan
Laba yang            = Rp 2.200,00 – Rp 1.806,07
Diharapkan
= Rp 393,93/ kg
Jadi total keuntungan yang diperoleh dari penjualan pupuk urea untuk tahun 2005 adalah:
Total keuntungan        = laba per kg x Total penjualan pupuk
= Rp 393,93 x  421.106.300 kg
= Rp 165.886.404.759,00
Sedangkan untuk tahun 2006 PT Pusri berhasil menjual pupuk urea sebanyak 1.783.847,6 ton. Perhitungan ini didapat dari :
Tabel 5 Penjualan Pupuk Urea Tahun 2006

Jumlah unit (Ton)
Persediaan barang jadi awal
324.284,7
Produksi periode ini
2.051.250,0
Persediaan barang jadi akhir
(591.687,1)
Total Penjualan
1.783.847,6
Sumber : Data diolah, 2007
Dari 1.783.847,6 ton penjualan pupuk urea sebanyak 1.650.000 ton untuk penjualan pupuk bersubsidi. Dengan demikian jumlah pupuk urea yang dijual ke perkebunan dan industri sebesar 133.847,6 ton.
Total Penjualan pupuk urea     =   Total Penjualan – penjualan bersubsidi
non subsidi
= 1.783.847,6 ton – 1.650.000 ton
= 133.847,6 ton
= 133.847.600 kg
Keuntungan yang diperoleh PT Pusri untuk tahun 2006 dari penjualan pupuk urea per kg adalah :
Harga Jual per kg = HPP + Laba yang diharapkan
Rp 2.200,00         = Rp 1.969,9 + Laba yang diharapkan
Laba yang            = Rp 2.200,00 – Rp 1.969,90
Diharapkan
= Rp 230,1 kg
Jadi total keuntungan yang diperoleh dari penjualan pupuk urea untuk tahun 2006 adalah:
Total keuntungan        = laba per kg x Total penjualan pupuk
= Rp 230,1 x  133.847.600 kg
= Rp 30.798.332.760,00
Penentuan Harga Jual di PT Pupuk Sriwidjaja Palembang
PT Pusri Palembang dalam hal penentuan harga jual berdasarkan pada harga yang ditetapkan oleh pemerintah dan harga pasar. Dalam hal penetapan harga oleh pemerintah, pemerintah menetapkan harga pupuk bersubsidi. Harga pupuk bersubsidi yang ditetapkan oleh pemerintah didasarkan pada kemampuan daya beli petani. Untuk tahun 2005 dan tahun 2006 harga pupuk bersubsidi yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar Rp 1.200,00 per kilogram. Sedangkan harga yang berlaku dipasaran tanpa subsidi pemerintah sebesar Rp 2.200,00 per kilogram. Dalam hal ini, pemerintah hanya membayar kekurangan harga pupuk berdasarkan pada harga pokok produksi ditambah biaya distribusi pupuk, yang berarti PT Pusri tidak diperkenankan untuk memperoleh keuntungan dari penjualan pupuk bersubsidi.
Biaya                           Harga                          Biaya                           Harga
Produksi                      Pokok                          Distribusi                     Pokok
Produksi                                                          Penjualan
Gambar 2 Proses Cost Accounting
Sumber : PT Pusri Palembang, 2007
Biaya distribusi pupuk terdiri dari Biaya angkutan, sewa gudang, bongkar muat, sewa kapal pupuk kantong, biaya pallet dan terpal, biaya survey.
-          Biaya Angkutan
Biaya ini adalah biaya yang dikeluarkan untuk proses pengangkutan pupuk urea dari gudang penyimpanan pupuk ke gudang distributor.
-          Sewa Gudang
Biaya ini dikeluarkan untuk sewa gudang penyimpanan pupuk yang tidak dimiliki PT Pusri, terdapat di daerah-daerah penyalur pupuk.
-          Bongkar Muat
Biaya ini dikeluarkan untuk proses bongkar muat pupuk dari kapal ke mobil pengangkutan gudang.
-          Sewa Kapal Pupuk Kantong
Biaya ini dikeluarkan untuk pengangkutan pupuk dengan menggunakan kapal sewa yang tidak dimiliki PT Pusri
-          Biaya Pallet dan Terpal
Biaya ini dikeluarkan untuk pallet (alas bawah pupuk) dan terpal (penutup pupuk) di gudang penyimpanan.
-          Biaya Survey
Biaya ini dikeluarkan untuk survey distribusi pupuk sampai ke konsumen.
Berdasarkan pada data yang ada biaya produksi untuk tahun 2005 sebesar Rp 897,14 / kg, sedang tahun 2006 biaya produksi sebesar Rp 911,99 / kg. Biaya distribusi untuk tahun 2005 sebesar Rp 1.882.491.200.000,00 dan untuk tahun 2006 sebesar Rp 1.887.150.000.000,00. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 6 Biaya Distribusi Pupuk Urea

Jenis Biaya

Tahun 2005
(000)
Tahun 2006
(000)
Biaya Angkutan
204.586.000
205.125.000
Sewa Gudang
306.879.000
307.687.500
Bongkar Muat
562.611.500
564.093.750
Sewa Kapal Pupuk Kantong
358.025.500
358.968.750
Biaya Pallet dan Terpal
173.898.100
174.356.250
Biaya Survey
276.191.100
276.918.750
Total Biaya
1.882.491.200
1.887.150.000
Sumber : Data diolah, 2007
Dari data diatas maka untuk tahun 2005 biaya distribusi per kilogram pupuk urea adalah :
Biaya distribusi           = Total Biaya distribusi
Pupuk urea                         Total penjualan
= Rp 1.882.491.200.000,00
2.071.106,3 ton
= Rp 908.930,00 per ton
= Rp908,93 / kg
Sehingga total harga pokok penjualan adalah :
Harga Pokok Penjualan = Harga pokok Produksi + Biaya distribusi
= Rp 897,14 + Rp 908,93
= Rp 1.806,07 / kg.
Sedangkan untuk tahun 2006, biaya distribusi per kilogram pupuk urea adalah :
Biaya distribusi           = Total Biaya distribusi
Pupuk urea                         Total penjualan
= Rp 1.887.150.000.000,00
1.783.847,6 ton
= Rp 1.057.909,88 per ton
= Rp1.057,91 / kg
Sehingga total harga pokok penjualan adalah :
Harga Pokok Penjualan = Harga pokok Produksi + Biaya distribusi
= Rp 911,99 + Rp 1.057,91
= Rp 1.969,9 / kg.
Kesimpulan
Dari hasil pembahasan yang penulis lakukan dapat disimpulkan sebagai berikut :
  1. Biaya produksi pupuk urea PT Pupuk Sriwidjaja merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi pupuk urea. Pengklasifikasian terhadap biaya-biaya yang terjadi untuk memproduksi pupuk urea telah dilakukan dengan tepat oleh PT Pupuk Sriwidjaja berdasarkan pada standar akuntansi yang berlaku umum, yang terdiri dari tiga unsur biaya produksi, yaitu biaya bahan baku, biaya upah/tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Pengklasifikasian biaya-biaya ini menghasilkan total biaya produksi pupuk urea untuk masing-masing pabrik. Total biaya produksi untuk masing-masing pabrik diakumulatifkan menjadi harga pokok produksi pupuk urea. Harga pokok produksi pupuk urea untuk tahun 2005 adalah sebesar Rp 879,14 per kg. Sedangkan untuk tahun 2006 sebesar Rp 911,99 per kg.
  2. Keuntungan yang dicapai PT Pupuk Sriwidjaja dari penjualan pupuk urea hanya diperoleh dari penjualan pupuk ke perkebunan dan industri. Sedangkan penjualan pupuk urea bersubsidi kepada petani tidak memperoleh keuntungan karena pemerintah hanya mengganti biaya subsidi pupuk berdasarkan harga pokok penjualan. Keuntungan dari penjualan pupuk ke perkebunan dan industri untuk tahun 2005 adalah sebesar Rp.165.886.404.759,00 sedangkan tahun 2006 turun menjadi Rp 30.798.332.760,00.
  3. PT Pupuk Sriwidjaja dalam hal penentuan harga jual berdasarkan pada harga yang ditetapkan oleh pemerintah dan harga pasar. Dalam hal Penetapan harga oleh pemerintah, pemerintah menetapkan harga pupuk bersubsidi yang khusus dijual untuk petani, sedangkan penjualan ke perkebunan dan industri berdasarkan harga pasar.
Saran
Dari kesimpulan diatas, penulis memiliki saran-saran sebagai berikut :
  1. Terdapat selisih yang cukup signifikan pada biaya produksi pupuk urea untuk tahun 2005 dan 2006. Hal ini disebabkan karena terjadinya kenaikan harga gas alam sebagai bahan baku pembuatan pupuk urea. Disarankan agar PT Pupuk Sriwidjaja dalam membeli gas dari pemasok dengan sistem kontrak harga untuk jangka waktu yang cukup lama. Sehingga perusahaan dapat mengukur dengan lebih baik efisiensi yang telah dilakukan terhadap biaya produksi pupuk urea.
  2. Untuk meningkatkan keuntungan dari penjualan pupuk urea, sebaiknya   PT Pupuk Sriwidjaja meningkatkan produksi agar dapat menjual lebih banyak pupuk ke perkebunan dan industri, terutama untuk ekspor. Tentunya setelah memenuhi kebutuhan pupuk urea dalam negeri, terutama buat petani. Disamping itu, tata niaga pendistribusian pupuk urea lebih ditingkatkan lagi agar persediaan akhir pupuk urea tidak menumpuk digudang. Hal ini terlihat dari besarnya persediaan akhir pupuk urea tahun 2006 dibandingkan tahun 2005.
DAFTAR RUJUKAN
Hanafi, Mahmud M & Halim Abdul. 2003. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: AMP YKPN Yogyakarta.
Kholmi, Masiyah & Yuningsih. 2002. Akuntansi Biaya. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang..
Mulyadi. 2000. Akuntansi Biaya. Yogyakarta: Aditya Media.
Mulyono, Sri. 2003. Statistika untuk Ekonomi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarata.
Poerwadarminta, W.J.S. 2006. Kamus Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta.
Riyanto, Bambang. 2001. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.
Riwayadi. 2006.  Akuntansi Biaya. Andalas University Press. Padang.
Sugiyono. 2004. Metode Penelitian Bisnis. Cetakan ke-7. IKAPI Alfabeth. Jakarata.
Usry, Carter. 2004. Akuntansi Biaya.. Jakarta: Salemba Empat.
Usry, Milton F & Lawrence Hammer. 1999. Akuntansi Biaya: Perencanaan dan Pengendalian. Jakarta: Erlangga
Sumber: Blog.binadarma.ac.id/Adrian_noviardy

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar